Oleh: H.F. Merdeka
Seorang anak berteriak di bawah ketiak emaknya, "anjing!"
Si emak kaget mendengar kata umpatan dari bibir mungil
"Mak! Anjing! Lari mak!"
Binatang kelam berkaki empat berlari cepat
Emak dan anak hanya berkaki dua, namun berlari tak kalah cepat
Laju. Laju. Laju...
Emak tersudut
Anak tersudut
Anjing berhenti, menarik nafas, sambil menatap tajam kedua manusia yang terjepit di antara tebing dan anjing
Anjing sesak nafas
Anak sesak nafas
Emak sesak nafas
Emak, anak, anjing sesak nafas.
Dor!
Anjing mati ditembak pemburu dari belakang
Emak menganga
Anak menganga
Anjing menganga. Mati menganga
Pemburu itu?
Showing posts with label Idealis Sosial. Show all posts
Showing posts with label Idealis Sosial. Show all posts
19 August 2009
22 September 2008
Aku Indonesia
Oleh: H.F. Merdeka
Aku adalah Indonesia
Aku adalah Indonesia yang bersuara
Aku hidup di antara 2 samudra
Aku hidup di antara 2 benua
Dulu aku indah
Dulu, orang-orang menyebutku begitu
Separuh nyawa, mereka berusaha merebut kedaulatanku yang dijajah.
Mereka berkorban jiwa raga untukku yang tertindas.
Dulu aku berharga
Dulu, belum lama, mereka mati-matian mempertahankanku
Dari pemberontakan dan PKI
Mereka menjaga warisan Soekarno, Bung Hatta, Sjahrir, dan pahlawan tangguh yang rela mati bertaruh nyawa.
Aku dibawanya ke dalam hati mereka.
Ke dalam semangat.
Mereka bergairah mempertahankan keutuhanku.
Kini aku tiba-tiba lain
Soekarno, Bung Hatta, Sjahrir, dan pahlawan tangguh yang rela mati bertaruh nyawa, benar-benar telah mati. Bahkan jiwanya.
Mereka tidak lagi menjaga Soekarno, Bung Hatta, Sjahrir, dan pahlawan tangguh yang rela mati bertaruh nyawa.
Mereka mencaciku
Mereka mencaci warisan Soekarno, Bung Hatta, Sjahrir, dan pahlawan tangguh yang rela mati bertaruh nyawa dulu
Mereka menghinaku
Mereka menghina warisan Soekarno, Bung Hatta, Sjahrir, dan pahlawan tangguh yang rela mati bertaruh nyawa dulu
Mereka menginjak-menginjakku
Mereka menginjak-menginjak warisan Soekarno, Bung Hatta, Sjahrir, dan pahlawan tangguh yang rela mati bertaruh nyawa dulu
Mereka Menghianatiku!
Ya, mereka mengkhianatiku, sebuah warisan paling berharga yang diberikan Soekarno, Bung Hatta, Sjahrir, dan pahlawan tangguh yang rela mati bertaruh nyawa dulu
Dulu, aku ingat, pemuda yang menamai dirinya sebagai bangsaku, memujaku, mengelu-elukan namaku.
Mereka mencintaiku.
Mereka merangkai aku dalam semangat kemerdekaannya.
Mereka menghadiahkan sumpah pemuda kepadaku.
Ah... sungguh indah...
Tapi pemuda itu kini telah mati
Sekarang tinggal pemuda berhati keji
Tidak ada lagi kado sumpah pemuda untukku.
Kecuali kado sumpah serapah!
Semua telah berubah
Semua telah berbeda bagiku
Aku adalah Indonesia
Aku ini adalah Indonesia yang bersuara
Walau tidak bisa berbuat apa-apa atas sumpah dan serapah pemuda dan jiwa-jiwa yang lahir dipangkuanku
Aku adalah Indonesia
Aku adalah Indonesia yang bersuara
Aku hidup di antara 2 samudra
Aku hidup di antara 2 benua
Dulu aku indah
Dulu, orang-orang menyebutku begitu
Separuh nyawa, mereka berusaha merebut kedaulatanku yang dijajah.
Mereka berkorban jiwa raga untukku yang tertindas.
Dulu aku berharga
Dulu, belum lama, mereka mati-matian mempertahankanku
Dari pemberontakan dan PKI
Mereka menjaga warisan Soekarno, Bung Hatta, Sjahrir, dan pahlawan tangguh yang rela mati bertaruh nyawa.
Aku dibawanya ke dalam hati mereka.
Ke dalam semangat.
Mereka bergairah mempertahankan keutuhanku.
Kini aku tiba-tiba lain
Soekarno, Bung Hatta, Sjahrir, dan pahlawan tangguh yang rela mati bertaruh nyawa, benar-benar telah mati. Bahkan jiwanya.
Mereka tidak lagi menjaga Soekarno, Bung Hatta, Sjahrir, dan pahlawan tangguh yang rela mati bertaruh nyawa.
Mereka mencaciku
Mereka mencaci warisan Soekarno, Bung Hatta, Sjahrir, dan pahlawan tangguh yang rela mati bertaruh nyawa dulu
Mereka menghinaku
Mereka menghina warisan Soekarno, Bung Hatta, Sjahrir, dan pahlawan tangguh yang rela mati bertaruh nyawa dulu
Mereka menginjak-menginjakku
Mereka menginjak-menginjak warisan Soekarno, Bung Hatta, Sjahrir, dan pahlawan tangguh yang rela mati bertaruh nyawa dulu
Mereka Menghianatiku!
Ya, mereka mengkhianatiku, sebuah warisan paling berharga yang diberikan Soekarno, Bung Hatta, Sjahrir, dan pahlawan tangguh yang rela mati bertaruh nyawa dulu
Dulu, aku ingat, pemuda yang menamai dirinya sebagai bangsaku, memujaku, mengelu-elukan namaku.
Mereka mencintaiku.
Mereka merangkai aku dalam semangat kemerdekaannya.
Mereka menghadiahkan sumpah pemuda kepadaku.
Ah... sungguh indah...
Tapi pemuda itu kini telah mati
Sekarang tinggal pemuda berhati keji
Tidak ada lagi kado sumpah pemuda untukku.
Kecuali kado sumpah serapah!
Semua telah berubah
Semua telah berbeda bagiku
Aku adalah Indonesia
Aku ini adalah Indonesia yang bersuara
Walau tidak bisa berbuat apa-apa atas sumpah dan serapah pemuda dan jiwa-jiwa yang lahir dipangkuanku
Labels:
H.F. Merdeka,
Idealis Indonesiaku,
Idealis Sosial
Keranda
Oleh: H.F. Merdeka
Setangkai kerangka rapuh terbujur kaku di atas keranda
dengan mulut menganga dan tubuh penuh luka
Mata-mata kosong menggotong bangkai manusia
dengan mulut terkatup dan hidung tertutup
Mata-mata kosong yang lain hanya menatap kosong
beberapa, tidak mempedulikan
beberapa, merapatkan bibir
beberapa, menyipitkan mata
beberapa, menyumbat hidung
beberapa, mengernyitkan kulit kepala
Setangkai bangkai rapuh terjuntai kaku di atas keranda
memakai jas
Telpon genggam, bersebalahan dengan dompet dan kunci mobil
di saku celana
Setangkai mayat rapuh ditambat disangkutkan ke liang lahat
Mata-mata kosong penggotong keranda meninggalkan mayat pejabat bejat terdampar di liang lahat
darah merangsek tanah
bibir menjadi gua cacing tanah
Alam yang akhirnya jua menguburkan
Setelah belatung mengerat
Sehabis pisau di dada berkarat
Setangkai kerangka rapuh terbujur kaku di atas keranda
dengan mulut menganga dan tubuh penuh luka
Mata-mata kosong menggotong bangkai manusia
dengan mulut terkatup dan hidung tertutup
Mata-mata kosong yang lain hanya menatap kosong
beberapa, tidak mempedulikan
beberapa, merapatkan bibir
beberapa, menyipitkan mata
beberapa, menyumbat hidung
beberapa, mengernyitkan kulit kepala
Setangkai bangkai rapuh terjuntai kaku di atas keranda
memakai jas
Telpon genggam, bersebalahan dengan dompet dan kunci mobil
di saku celana
Setangkai mayat rapuh ditambat disangkutkan ke liang lahat
Mata-mata kosong penggotong keranda meninggalkan mayat pejabat bejat terdampar di liang lahat
darah merangsek tanah
bibir menjadi gua cacing tanah
Alam yang akhirnya jua menguburkan
Setelah belatung mengerat
Sehabis pisau di dada berkarat
04 September 2008
Negeri Sang Pelacur
Oleh: H.F. Merdeka
Suatu ketika, ternobatlah sebuah negara sebagai negara paling hancur
Suatu ketiak, beribu bau memburu seluruh penjuru
Terkisah tak hanya pelacur yang melacur
Tersiksa tak hanya istri makan hati, tapi juga manusia tak ber-money
Pemimpin melacurkan citra kepercayaan
Pesohor melacurkan identitas
Penimbang norma melacurkan keadilan
Sedangkan aku melacurkan pemikiran
Tersebutlah negeri itu Negeri Sang Pelacur
Terkisah tak hanya pelacur yang melacur
Suatu ketika, ternobatlah sebuah negara sebagai negara paling hancur
Suatu ketiak, beribu bau memburu seluruh penjuru
Terkisah tak hanya pelacur yang melacur
Tersiksa tak hanya istri makan hati, tapi juga manusia tak ber-money
Pemimpin melacurkan citra kepercayaan
Pesohor melacurkan identitas
Penimbang norma melacurkan keadilan
Sedangkan aku melacurkan pemikiran
Tersebutlah negeri itu Negeri Sang Pelacur
Terkisah tak hanya pelacur yang melacur
21 August 2008
Perjalanan Menuju Akhir
Oleh: Resty Falinedel
Di mana langkah ini akan terhenti
Lelah, aku lelah bejalan di antara bebatuan tajam
Satu langkah ku berjalan
Terlukis satu goresan baru di telapak kakiku
Perih, hanya perih yang mengiringi langkahku
Cacian tiada henti hujani gedung rakyat
Sumpah-serapah menjadi saksi
Sejenak aku ingin semua panca inderaku mati
Aku muak menyaksikan hiruk-pikuk kelicikan
Di mana langkah ini akan terhenti
Bebatuan tajam tetap setia menemani perjalananku
Akupun berlari,
Lari dengan sisa-sisa langkahku
Tetap berlari dengan goresan goresan yang kian perih
Tanah airku yang kaya dengan hijaunya
Tanah airku yang kaya dengan birunya
Kini…
Tanah airku yang kaya dengan keserakahannya
Tanah airku yang kaya dengan kecoa busuknya
Sesungguhnya,
Tanah airku miskin akan moral
Apa hanya aku yang menyadarinya?
Apa hanya aku yang merasakan perihnya penderitaan tanah airku?
Langkahku terhenti di sebuah lembah curam
Adakah satu harapan tertanam di dasarnya
Kuperhatikan lagi dasar lembah itu dengan seksama
Ternyata itu bukanlah sebuah harapan
Di lembah curam itulah akhir dari tanah airku
Di mana langkah ini akan terhenti
Lelah, aku lelah bejalan di antara bebatuan tajam
Satu langkah ku berjalan
Terlukis satu goresan baru di telapak kakiku
Perih, hanya perih yang mengiringi langkahku
Cacian tiada henti hujani gedung rakyat
Sumpah-serapah menjadi saksi
Sejenak aku ingin semua panca inderaku mati
Aku muak menyaksikan hiruk-pikuk kelicikan
Di mana langkah ini akan terhenti
Bebatuan tajam tetap setia menemani perjalananku
Akupun berlari,
Lari dengan sisa-sisa langkahku
Tetap berlari dengan goresan goresan yang kian perih
Tanah airku yang kaya dengan hijaunya
Tanah airku yang kaya dengan birunya
Kini…
Tanah airku yang kaya dengan keserakahannya
Tanah airku yang kaya dengan kecoa busuknya
Sesungguhnya,
Tanah airku miskin akan moral
Apa hanya aku yang menyadarinya?
Apa hanya aku yang merasakan perihnya penderitaan tanah airku?
Langkahku terhenti di sebuah lembah curam
Adakah satu harapan tertanam di dasarnya
Kuperhatikan lagi dasar lembah itu dengan seksama
Ternyata itu bukanlah sebuah harapan
Di lembah curam itulah akhir dari tanah airku
Labels:
Idealis Indonesiaku,
Idealis Sosial,
Resty Falinedel
20 August 2008
Teka-teki
Oleh: H.F. Merdeka
Zaman-zaman seperti ini
Watak pemimpin adalah misteri
Setiap hari dihitung rakyat sebagai teka-teki
Zaman-zaman seperti ini
Selebriti tidak hanya bermain di tivi-tivi
Menambah jumlah pemimpin teka-teki
Zaman-zaman seperti ini
Mahasiswa tidak kuliah lagi
Sibuk menyuarakan aspirasi
Zaman-zaman seperti ini
Penyair menulis-nulis puisi
Untuk apa yang tidak orang mengerti
Zaman-zaman seperti ini
Watak pemimpin adalah misteri
Setiap hari dihitung rakyat sebagai teka-teki
Zaman-zaman seperti ini
Selebriti tidak hanya bermain di tivi-tivi
Menambah jumlah pemimpin teka-teki
Zaman-zaman seperti ini
Mahasiswa tidak kuliah lagi
Sibuk menyuarakan aspirasi
Zaman-zaman seperti ini
Penyair menulis-nulis puisi
Untuk apa yang tidak orang mengerti
Labels:
H.F. Merdeka,
Idealis Indonesiaku,
Idealis Sosial
11 August 2008
Andai Aku Menikahi Merdeka
Oleh: H.F. Merdeka
Ijab kabul telah terucap
antara aku dan seorang gadis yang bernama merdeka
Kugiring ia ke balik tirai kamar
yang remang
yang tegang
yang manis
yang romantis
Kubaringkan ia di atas peraduan
yang remang
yang tegang
yang manis
yang romantis
Kutelanjangi ia di depan tubuhku yang berkeringat
menahan hasrat
manahan teramat hasrat
Alangkah terkejutnya aku
Melihat gadis yang bernama merdeka itu
Tak seindah namanya
Tak seindah gaun yang kucampakkan ke lantai itu
Kulitnya berkudis
Berkurap-kurap
Panu melahap seperempat badan
Kutu air menelan kaki dan tangannya
Tak apalah
Aku telah menikahinya
Ini malam
yang remang
yang tegang
yang manis
yang romantis
Aku tetap mengawininya
Ijab kabul telah terucap
antara aku dan seorang gadis yang bernama merdeka
Kugiring ia ke balik tirai kamar
yang remang
yang tegang
yang manis
yang romantis
Kubaringkan ia di atas peraduan
yang remang
yang tegang
yang manis
yang romantis
Kutelanjangi ia di depan tubuhku yang berkeringat
menahan hasrat
manahan teramat hasrat
Alangkah terkejutnya aku
Melihat gadis yang bernama merdeka itu
Tak seindah namanya
Tak seindah gaun yang kucampakkan ke lantai itu
Kulitnya berkudis
Berkurap-kurap
Panu melahap seperempat badan
Kutu air menelan kaki dan tangannya
Tak apalah
Aku telah menikahinya
Ini malam
yang remang
yang tegang
yang manis
yang romantis
Aku tetap mengawininya
Labels:
H.F. Merdeka,
Idealis Indonesiaku,
Idealis Sosial
31 July 2008
Jilati Aku
Oleh: H.F. Merdeka
Beberapa pasang mata menatapku
dari lorong kecil di depan sana
Ketika aku sedang berfriendster ria
Lirak-lirik penuh gairah, entah gerangan apa
Beberapa pasang mata berjalan penuh pesona
Menunjukkan segenap apa yang bisa ditunjukkan
Seperti mencari perhatian
Sibuk-sibuk tak karuan
Beberapa pasang mata ternyata sedang menjilat
Seseorang yang duduk berwibawa tak jauh darinya
Aku mencibir dalam hati
melihat beberapa pasang mata berubah gairah
merubah gaya
Ketika bosnya meninggalkan tempat kerja
Ah, andai aku juga dijilati mereka
Beberapa pasang mata menatapku
dari lorong kecil di depan sana
Ketika aku sedang berfriendster ria
Lirak-lirik penuh gairah, entah gerangan apa
Beberapa pasang mata berjalan penuh pesona
Menunjukkan segenap apa yang bisa ditunjukkan
Seperti mencari perhatian
Sibuk-sibuk tak karuan
Beberapa pasang mata ternyata sedang menjilat
Seseorang yang duduk berwibawa tak jauh darinya
Aku mencibir dalam hati
melihat beberapa pasang mata berubah gairah
merubah gaya
Ketika bosnya meninggalkan tempat kerja
Ah, andai aku juga dijilati mereka
15 July 2008
Kami Tak Bisa Lagi Teriak Merdeka
Oleh: H.F. Merdeka
Untuk: Petinggi negeriku dan Ch. Anwar dan karya-karyanya yang tak 'kan pernah mati
Kami tak bisa lagi teriak merdeka
Ketika kemiskinan tak hanya melilit raga
Ditelanjangi dusta dan kehinaan yang terjadi di balik akal busuk si setan harta
Kami tak bisa lagi teriak merdeka
Tersesat kering di lumbung padi
Merayap-rayap menanti mati!
Kami tak bisa lagi teriak merdeka
Ketika dusta tak lagi rahasia
Dunia menenggelamkannya dalam dasar bumi terdalam
Tiada lagi malaikat putih penebar harapan
Seperti beberapa tahun yang lalu kau siluetkan
Kami tak bisa lagi teriak merdeka
Terkatung di antara belatung pemakan jasad-jasad kaku, kami
Bahkan tak bisa memperjuangkan kalian
Kalian nan dulu berteriak merdeka
Bahkan kami tak mampu meneruskan jiwa kalian
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Dan Menjaga Bung Sjahrir
Bahkan kami tak mampu mengenang kalian
Kalian yang kini hanyalah tulang belulang yang diliputi debu
Karena kami tak lebih dari seonggok bangkai kering yang rapuh dimakan belatung
Untuk: Petinggi negeriku dan Ch. Anwar dan karya-karyanya yang tak 'kan pernah mati
Kami tak bisa lagi teriak merdeka
Ketika kemiskinan tak hanya melilit raga
Ditelanjangi dusta dan kehinaan yang terjadi di balik akal busuk si setan harta
Kami tak bisa lagi teriak merdeka
Tersesat kering di lumbung padi
Merayap-rayap menanti mati!
Kami tak bisa lagi teriak merdeka
Ketika dusta tak lagi rahasia
Dunia menenggelamkannya dalam dasar bumi terdalam
Tiada lagi malaikat putih penebar harapan
Seperti beberapa tahun yang lalu kau siluetkan
Kami tak bisa lagi teriak merdeka
Terkatung di antara belatung pemakan jasad-jasad kaku, kami
Bahkan tak bisa memperjuangkan kalian
Kalian nan dulu berteriak merdeka
Bahkan kami tak mampu meneruskan jiwa kalian
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Dan Menjaga Bung Sjahrir
Bahkan kami tak mampu mengenang kalian
Kalian yang kini hanyalah tulang belulang yang diliputi debu
Karena kami tak lebih dari seonggok bangkai kering yang rapuh dimakan belatung
Labels:
H.F. Merdeka,
Idealis Indonesiaku,
Idealis Sosial
Subscribe to:
Posts (Atom)