Pages

Showing posts with label Idealis Cinta. Show all posts
Showing posts with label Idealis Cinta. Show all posts

18 July 2010

Sepi itu tidak berjudul...

Aku tidak ingin terjatuh dalam kesepian, lebih baik aku bungkam mulut ini dan memutuskan tidak bersuara daripada sepi. Setiap sisi hidupku ingin ku pasangi bohlam yang paling terang, agar setiap tepian hidupku terang. Dan biarlah ditengah hanya samar, ditempat aku berada.

Biarlah aku berhenti tersenyum, selama itu pula aku mendapat senyuman. Dan aku pun tidak berguna untuk tersenyum atau membuat senyuman. Sesuatu yang indah dari hidupku biarlah ada di tepian. Dan aku tetap akan samar ditengah tempat aku terlelap.

Yang aku butuhkan bukan disini tepat di jantungku. Aku butuh darah di seluruh tubuhku maka aku jauh dari sekarat, akupun jauh dari liang lahat. Jantung ini apalah, hanya tempat kalian singgahi. Dan yang ku mau bukan yang disinggahi……...yang menyinggahi...

21 July 2009

Tinggal selamanya

jari jariku bersiap di atas kertas
menulis nama dan kisah tentang kita
terangnya cahaya lampu membuat mataku silau
terkadang buyarkan semua kata yang telah kurangkai

ini tentang kita, tentang apa yang kita lalui
dan bagaimana caramu mengakhiri semuanya
seperti seekor pipit mungil wajahmu
membutakan hasrat kecurigaanku padamu


betapa seorang wanita yang tiap harinya bersamaku
memeluk dan tidur disampingku, menghirup udara yang sama denganku
kita hitung tiap lembaran kertas yang kau tulisi namaku
ku usap tangan mungilmu yang bertuliskan namaku
hasil sayatan pertamamu saat tak kuat ingin memelukku
dan berakhir sudah dengan air mata yang menetes tidak untukku

catatan ini takkan berakhir begitu saja
saat kau koyakkan maka saat itulah dia tinggal selamanya

15 December 2008

Ketika Aku Tanpa Onha

Aku merasakannya kemarin,
Saat aku harus berada 30 menit ke utara,

Aku merasakannya kemarin,
Saat kesendirian bercumbu dengan ketakutan,

Aku merasakannya kemarin, sekarang, dan esok.
Dan akan terus kurasakan saat sepi melanda,
Saat aku harus berhenti memeluknya,

Aku merasakannya kemarin
Ketika hidupku tanpa Onha

28 November 2008

Kerinduan

Oleh: H.F. Merdeka

Mawar, kapan kau 'kan pulang?
Tidakkah rindu menggerogoti hatimu?
Seperti ia telah memakan hati dan separuh jantungku.

Sungguh keterlaluan kau, mawar!
Kau biarkan aku tercabik ganas
Asmaraku yang telah berbuat

Dan tak pula kau balut dengan belaian hangatmu
Kau biarkan darahku memandikanku

Dan tak pula kunjung kau sapu
Kenapa kau biarkan darah ini membusuk?

Kau kira rindu ini nikmat?!

Prabicara

Oleh: H.F. Merdeka

Kita pernah hidup pada zaman prabicara, ketika zaman berbahasa bukan dengan kata-kata
Kita sama sekali tidak pernah berucap cinta
Bahkan untuk mengatakan "aku cinta kamu."

Kau tau?
Aku lebih suka hidup di zaman itu.
Orang-orang menganggap cinta bukan hanya omong kosong semata
Mereka tak sembarangan mempertuankan cinta

Tidak seperti zaman di mana aku tersesat sekarang
Mereka tidak hanya berucap cinta bahkan berbual cinta!

Aku ingin kembali ke sana.
Ingin rasanya aku menyatakan cinta kepadamu sekali lagi
dan sekali lagi
Bukan lewat bicara, bukan melalui bibir ini.
Melainkan dari getaran hati.
Getaran hati yang kukirimkan lewat nada-nada indah pada hangat malammu ketika kau terlelap
Karena begitulah cara orang-orang zaman prabicara menyatakan cintanya

19 November 2008

Rumah Kosong Itu

Oleh: Resty Falinedel

Hari ini aku lewat lagi di sebuah jalan kecil
Sekilas kupandangi rumah kosong dipinggir jalan itu
Rumah yang kosong meski ada pemiliknya di sana
Aku heran, jalan kecil itu sering kulewati
Padahal masih ada banyak jalan di kotaku yang hancur ini
Sama seperti hari sebelumnya
rumah itu masih tetap kosong
Bahkan berkali kali aku melihat sekilas
ke arah rumah di pinggir jalan kecil itu
Dan rumah itu masih tetap kosong
Kosong tanpamu
Setiap melihat rumah kosong itu
Aku semakin merindukanmu
WOOOOIIIIIIII….. PULANG DUNX
AKU BOSAN MELIHAT RUMAH KOSONG ITU

Entah

Oleh: Resty Falinedel

Fatamorgana apa yang kulihat ini?
Aku ingin terus di sini, berada di sini
Lihatlah relung-relung kelam ini
Indahnya kegelapan akan beterbangan, berhamburan
Naungan birupun membentang

Erangan sepiku selalu bersahutan
Dengarkanlah takut yang mencekam ini
Entah apa, entah siapa, entah dimana dan entah mengapa
Lorong-lorong hitam meraihmu, membawamu, melenyapkanmu
Waktupun akan meninggalkanku di dunia asing ini
Enyah dari pandanganku yang layu
Isak tangis menjatuhkanku
Sunyi, hanyalah sunyi, hanya kesunyian tanpa hadirmu

Bukan Bidadari

Oleh: Resty Falinedel

Ada seraut wajah tanpa emosi
Menatap hampa dari balik matanya
Entah kemana pikirannya berlayar
Entah dimana hatinya tertanam
Aku memang bukan bidadari
Berparas indah meinyejukkan hati
Aku hanya pantas disebut manusia

Aku menghampiri sosok tanpa emosi itu
Petiklah senar gitar itu
Nyanyikan lagu dari hatimu
Ungkapkan rasa yang telah menjadi endapan
Biarkanlah endapan itu menguap
Suaramu, biarkanlah bersuara
Amarahmu, biarkanlah membentak
Dan berteriaklah jika itu menenangkanmu

Sosok tanpa emosi itu memerah, tersenyum
Ia menghampiriku
Kau memang bukanlah bidadari
Tapi kau mampu menyinari hatiku
Kau memang bukan bidadari
Kau pantas kusebut sahabat

Apapun Itu, Tak Lagi Berarti

Oleh: Resty Falinedel

Rajutan rindu robohkan raguku
Enyah sudah semua yang ada di hati ini
Semakin sakiti sukmaku
Terlalu tajam tak terhenti
Memasungku di tiang pengkhianatan
Untaian kenangan apa lagi yang harus kucampakkan
Riak kebencian merasukiku
Segala kebohongan telah menelanku
Apapun itu, telah menghancurkanku
Lagu pilu mengalun dari bibirmu
Ingkari saja mata berkabut itu
Namamu hanya sebuah kata tak berarti bagiku kini
Apapun itu, telah menghancurkanku
Apapun itu, tak lagi berarti

28 August 2008

Nafas yang Tertinggal

Oleh: Resty Falinedel

Kau pergi, aku di sini

Kau jauh di sana, aku di sini

Tanpamu aku terikat di sini

Terikat sepi…

Waktu memasungku

Berantai kerinduan di tangan dan kakiku

Sedangkan hatiku memanggilmu tuk kembali

Tidakkah kau sadari?

Ada yang tertinggal di sini, bersamaku

Andai saja kau dapat kembali

Akan kuhembuskan nafas yang tertinggal

Agar jantungmu berdenyut lagi …

30 July 2008

Ibu Budi

Oleh: Hw. Yanda

Ini Ibu Budi
Budi ini Ibu

Apa kamu tau maknanya Nak?
Mungkin tidak hingga kamu mau mencuci piring ini
atau takkan pernah selagi kamu tak ikut serta menangisi bangkai sibapak

Cukup lama aku merindukan tangisanmu minta tetek,
menghembus keningmu saat kehangatan tak sanggup kau redam

Tapi tubuhmu yang terlalu tinggi enggan menunduk menatapku

Ini Ibu Budi
Budi ini Ibu
dan aku merindukan kepulanganmu Malinku.

28 July 2008

Wanitaku Layang

Oleh: Hw. Yanda

hello wanita kurus kerempeng,
mengapa kau begitu angkuh tuk terbang tinggi sendirian?
tidakkah kau ingin disampingku dan mencicipi anggur ini?

kemarilah...

hentikan kekonyolanmu tuk melawan raja udara,
kau pikir dengan kertas tiga rupa itu kau dapat membuatnya tertawa?
Tidak!
justru malah kau yang kan menangis tuk menghujamkan dirimu di rerumputan ini

kemarilah...

aku telah jatuh cinta padamu,
seperti Kahli menyelimuti Karami dengan puisi dan cintanya
kan kubuat hal serupa.

atau kau ingin melayang lebih tinggi?

kemarilah...
tuk kutambah talimu, dan nanti di atas sana buatlah garis membelah awan
yang membentuk nama kita,

dan setelah itu,
kau milikku.

15 July 2008

Ketika Aku Ingin Pulang

Oleh: H.F. Merdeka

Ketika aku ingin pulang
dari ruang kelana yang panjang
Meski tertatih, aku terbang ke Bangkinang
setidaknya pikiranku

Ketika aku ingin pulang
berarti aku sedang bosan
ta ti tu
bla bla

Ketika aku ingin pulang
berarti aku sedang bosan
dari ruang kelana yang panjang
ta ti tu
bla

Engaku adalah Hawa yang Tercipta untuk Selalu Kuhela

Oleh: H.F. Merdeka
13 Juli 2008

Entah apa yang telah menyebabkanku jatuh
Aku mengagumimu hanya dari kata dalam pesan pendek yang engkau kirim semalam

Begitu bodoh terdengar
Namun percayakah kau? Begitu indah kurasakan
Kau bermain di hati dan pikiranku

Kemegahanmu adalah anugerah
Engkau adalah hawa yang diciptakan Tuhan untuk selalu kuhela

Bodoh

Oleh: H.F. Merdeka
Tengah malam, 16 Juli 2008

Di dalam kamar
di sebuah rumah sakit nan remang,
kau tertunduk lesu.
Tanganmu lemah menggenggam
jemari seorang pria yang terbaring
tak sadarkan diri di sampingmu

Di pikiranmu,
kau membayangkan kejadian dua belas jam silam
saat seorang pria yang terbaring
tak sadarkan diri di sampingmu itu menyelamatkanmu
dari maut yang berwujud senjata api

Di saat aku terbangun,
kau menangis, memelukku, lalu kemudian memakiku

Hening merayap walau tangismu tetap saja meratap

Kau bodoh!
Katamu sebelum beranjak pergi
Aku hanya melihatmu, selang oksigen masih merekat di hidungku

Ketika kau membuka pintu
"Ya, otakku memang bodoh karena tak bisa memikirkan apapun selain namamu!" teriakku berbisik.

Seketika kau melompat ke pundakku, menangis
Dan aku tersenyum
Tidak lama, aku berbaur dengan tangismu

Pengantar Tidur

Oleh: H.F. Merdeka
Tengah malam, 22 Juni 2008

Krik...krik...krik...
Aku tak bisa setegar dua menit yang lalu, ketika air mata masih di dalam tubuhku

Krik...krik...krik...
Aku teringat ayahku, ibuku
kakak-kakakku,
adikku, dan satu sahabat perempuan yang lagi memusuhiku

Krik...krik...krik...
Malam ini, sebagai pengantar tidurku
Kuserahkan segenap air mata untuk mereka

Krik...krik...krik...
Ah... tak bisakah jangkrik itu berhenti sejenak?