22 December 2009
Kata
28 March 2009
Untitled
dalam dingin yang menembus asaku
suaranyanya mengalahkan segala jeritan
rintiknya perlahan menutupi air mataku
dan kuhanya mampu membeku di antaranya
pada siapa kuteriakkan kemarahan ini?
padamu? padanya? atau pada langit?
rintik hari ini mengingatkanku cara tuk tersenyum
dan aku tersenyum mengingatnya
04 February 2009
Aku Adalah Aku
Percayalah, aku adalah aku
Aku bukan makhluk yang bersembunyi
di balik tirai kemunafikan itu
Percayalah, aku adalah aku
aku bukan sosok pengecut yang berlari
dari nyata di hadapanku
Aku adalah aku
Aku hanya bersembunyi
dari kerapuhanku di balik keangkuhan tanpa hati
Ku mohon percayalah
Aku adalah aku
meski terkadang tak terlihat seperti aku adanya
Lihatlah aku dari sudut hati yang berbeda
Maka kau akan yakin bahwa aku adalah aku
Percayalah.....
19 November 2008
Rumah Kosong Itu
Hari ini aku lewat lagi di sebuah jalan kecil
Sekilas kupandangi rumah kosong dipinggir jalan itu
Rumah yang kosong meski ada pemiliknya di sana
Aku heran, jalan kecil itu sering kulewati
Padahal masih ada banyak jalan di kotaku yang hancur ini
Sama seperti hari sebelumnya
rumah itu masih tetap kosong
Bahkan berkali kali aku melihat sekilas
ke arah rumah di pinggir jalan kecil itu
Dan rumah itu masih tetap kosong
Kosong tanpamu
Setiap melihat rumah kosong itu
Aku semakin merindukanmu
WOOOOIIIIIIII….. PULANG DUNX
AKU BOSAN MELIHAT RUMAH KOSONG ITU
Perdebatanku dengan Pikiranku
Aku berdebat dengan pikiranku
Tentang sesuatu
yang tak pernah dapat kupahami hingga saat ini
Dan kami tak pernah sependapat
Tentang sesuatu yang tak pernah dapat kupahami itu
Kami terus berdebat
Aku dan pikiranku tetap tak sependapat
Aku adalah manusia
Tidak, aku adalah makhluk asing tanpa jiwa
Aku miliki perasaan
Tidak, perasaanku telah membeku
Dalam perdebatan itu
Tanpa disadari aku dan pikiranku telah berada di tengah samudera
Yang kalah dalam perdebatan itu akan tenggelam
Aku tak tau siapa yang benar
Aku ato pikiranku
Yang kutau aku hanya sendiri
Sedang hatiku berpihak pada pikiranku
Dan aku tenggelam dalam samudera keegoisan
Hening
Malam kian pekat
Semakin pekat dan menghitam
Sepi…hening…
Memasungku dalam kesendirian
Malam kian pekat
Aku ingin bermimpi
Berada dalam istana tidurku
Bukan di sini, di keheningan ini
Jika mentari mulai menyapu malam
Perlahan keheningan menghilang
Dan akan kutunggu lagi Sang malam
Entah
Fatamorgana apa yang kulihat ini?
Aku ingin terus di sini, berada di sini
Lihatlah relung-relung kelam ini
Indahnya kegelapan akan beterbangan, berhamburan
Naungan birupun membentang
Erangan sepiku selalu bersahutan
Dengarkanlah takut yang mencekam ini
Entah apa, entah siapa, entah dimana dan entah mengapa
Lorong-lorong hitam meraihmu, membawamu, melenyapkanmu
Waktupun akan meninggalkanku di dunia asing ini
Enyah dari pandanganku yang layu
Isak tangis menjatuhkanku
Sunyi, hanyalah sunyi, hanya kesunyian tanpa hadirmu
Bukan Bidadari
Ada seraut wajah tanpa emosi
Menatap hampa dari balik matanya
Entah kemana pikirannya berlayar
Entah dimana hatinya tertanam
Aku memang bukan bidadari
Berparas indah meinyejukkan hati
Aku hanya pantas disebut manusia
Aku menghampiri sosok tanpa emosi itu
Petiklah senar gitar itu
Nyanyikan lagu dari hatimu
Ungkapkan rasa yang telah menjadi endapan
Biarkanlah endapan itu menguap
Suaramu, biarkanlah bersuara
Amarahmu, biarkanlah membentak
Dan berteriaklah jika itu menenangkanmu
Sosok tanpa emosi itu memerah, tersenyum
Ia menghampiriku
Kau memang bukanlah bidadari
Tapi kau mampu menyinari hatiku
Kau memang bukan bidadari
Kau pantas kusebut sahabat
Apapun Itu, Tak Lagi Berarti
Rajutan rindu robohkan raguku
Enyah sudah semua yang ada di hati ini
Semakin sakiti sukmaku
Terlalu tajam tak terhenti
Memasungku di tiang pengkhianatan
Untaian kenangan apa lagi yang harus kucampakkan
Riak kebencian merasukiku
Segala kebohongan telah menelanku
Apapun itu, telah menghancurkanku
Lagu pilu mengalun dari bibirmu
Ingkari saja mata berkabut itu
Namamu hanya sebuah kata tak berarti bagiku kini
Apapun itu, telah menghancurkanku
Apapun itu, tak lagi berarti
10 September 2008
Aku dan Kebosananku
Oleh: Resty Falinedel
Aku berada di sini
dengan kebosanan menemaniku
Aku bosan menatap orang-orang
yang bertingkah seperti orang-orangan
Aku bosan menyaksikan tarian pepohonan
Aku bosan mendengar teriakan kemunafikan
Aku bosan mengetahui kebenaran
sedangkan orang-orang menyalahinya
Aku bosan dengan pikiranku
yang selalu merasa bosan pada kebosanan
Dan kebosanan telah bosan menemaniku…
Kau, Dia, dan Semua Tentangku
Oleh: Resty Falinedel
Aku suka bintang
Apa kau tau?
Tidak, kau tak pernah tau itu
Hanya dia yang tau
Aku suka birunya lautan
Dan birunya langit tanpa awan
Apa kau tau itu?
Kau tetap tak tau
Hanya dia yang tau
Mataku tersenyum dan bibirku bernyanyi
Sedangkan hatiku menangis
Apa kau tau itu?
Kau tak pernah tau
Hanya dia yang tau
Pensilku tuliskan kata-kata cinta
Sedangkan tanganku menentangnya
Apa kau tau itu?
Kau tak pernah tau
Hanya dia yang mampu mengetahuinya
Akupun tau pensil yang ia miliki
Juga tuliskan kata-kata cinta untukku
Dan tangannya mengayunkan pensil itu
Dengan sebuah ketulusan
Kau bukanlah dia
Dan dia bukanlah kau yang tak tau apa-apa tentangku
28 August 2008
Nafas yang Tertinggal
Kau pergi, aku di sini
Kau jauh di
Tanpamu aku terikat di sini
Terikat sepi…
Waktu memasungku
Berantai kerinduan di tangan dan kakiku
Sedangkan hatiku memanggilmu tuk kembali
Tidakkah kau sadari?
Andai saja kau dapat kembali
Akan kuhembuskan nafas yang tertinggal
Agar jantungmu berdenyut lagi …
Lautan Birumu
Oleh: Resty Falinedel
Siapa yang mengerti bisikan riak ombak?
Aku merindukanmu
Perjalanan gelombang-gelombangnya?
Penuh garam dan asin
Suara hempasannya di bebatuan karang?
Terasa begitu sakit, perih
Dan amukannya saat tiba di garis pantai berpasir?
Kemarahan yang merah
Bahkan angin yang menyapa puncak cemarapun tak pernah tau
Bingung menyaksikan dunia
Sedangkan awan yang menggelantung
tetap setia mengawasi dari atas
tanpa mengerti apa-apa
Tanpa mengerti apa-apa
Hanya aku yang mengerti lautan birumu
Aku dan Kalian
Oleh: Resty Falinedel
Tertiup sang bayu
Debu di terik panas beterbangan
Kemana bertiup ke
Berputar mengikuti tiupannya
Tanpa ada yang peduli
Debu memang tak pernah berarti
Tak pernah terlihat
Tak pernah dihiraukan
Dan terabaikan
Akulah debu
Sedangkan kalian semua adalah taik…
hack,hack,hack...
21 August 2008
Hanya Hitam dan Putih
Samar-samar pandanganku diselubungi kabut
Entah apa yang ada di hadapanku
Entah apa yang ada di belakangku
Semua semakin samar-samar
Bola mataku kian membulat
Berusaha tuk melihat lebih jelas
Tapi semua tetap saja sama
Semua semakin samara-samar
Bagaimana aku bisa melukiskan
semua yang ada di hadapanku?
Yang kulihat hanyalah hitam dan putih
Yang semakin samar-samar
Ingin kugoreskan banyak warna
di permukaan kanvasku
Tapi aku hanya mengenal dua warna
Hitam, putih…
Pada Matahari
Yth. Matahari Sang Raja Siang
di
Pusat Tata Surya
Melalui surat ini saya sampaikan kepada Sang Raja Siang bahwa saya merasa sangat terganggu oleh pancaran sinar anda.
Oleh sebab itu saya mohon agar Sang Raja Siang berkenan untuk tidak menyinari dunia saya.
Atas perhatian Sang Raja Siang saya mengucapkan terima kasih.
Tertanda
Penguasa Kegelapan
Woi…!!!
Matahari!!!
Kenapa kamu muncul lagi pagi ini?
Aku baru saja menikmati gelapku
Heh!!!
Cahayamu menyilaukan mata suramku
Ingin aku menyirammu
Mengguyurmu dengan lautan hitam
Agar nyalamu padam tak
bersinar
Matahari!!!
Aku benci terangmu itu
Kau menelan hitam pekat kegelapanku
Aku tak mau lagi melihat nyalamu itu
Pergi! Pergilah! Menjauh dariku!!!
Biarkan aku terlelap dalam kegelapan
Menikmati hitamnya duniaku…
Perjalanan Menuju Akhir
Di mana langkah ini akan terhenti
Lelah, aku lelah bejalan di antara bebatuan tajam
Satu langkah ku berjalan
Terlukis satu goresan baru di telapak kakiku
Perih, hanya perih yang mengiringi langkahku
Cacian tiada henti hujani gedung rakyat
Sumpah-serapah menjadi saksi
Sejenak aku ingin semua panca inderaku mati
Aku muak menyaksikan hiruk-pikuk kelicikan
Di mana langkah ini akan terhenti
Bebatuan tajam tetap setia menemani perjalananku
Akupun berlari,
Lari dengan sisa-sisa langkahku
Tetap berlari dengan goresan goresan yang kian perih
Tanah airku yang kaya dengan hijaunya
Tanah airku yang kaya dengan birunya
Kini…
Tanah airku yang kaya dengan keserakahannya
Tanah airku yang kaya dengan kecoa busuknya
Sesungguhnya,
Tanah airku miskin akan moral
Apa hanya aku yang menyadarinya?
Apa hanya aku yang merasakan perihnya penderitaan tanah airku?
Langkahku terhenti di sebuah lembah curam
Adakah satu harapan tertanam di dasarnya
Kuperhatikan lagi dasar lembah itu dengan seksama
Ternyata itu bukanlah sebuah harapan
Di lembah curam itulah akhir dari tanah airku
Serpihan Hati
Aku dipasung oleh waktu
Berantaikan kenangan di kedua kakiku
Terikat masa lalu di tanganku
Aku ingin pergi
Aku tak ingin berada lembah kenangan
Tapi kenapa langkah ini tetap terpaku?
Aaaaaaggghh….!!!!
Izinkan aku meninggalkan jejak-jejak masa lalu ini!!!
Kepada siapa aku berteriak?
Padamu? Padanya? Atau pada Sang waktu?
Bahkan kenangan itupun enggan berlalu
Aku masih di sini
Berada di lembah kenangan ini
Aku masih di sini
Bersama serpihan hati
Serpihan hati yang kau tinggalkan untukku
Serpihan hatimu…