Pages

Showing posts with label Resty Falinedel. Show all posts
Showing posts with label Resty Falinedel. Show all posts

22 December 2009

Kata

Oleh: Resty Falinedel

Terkadang seorang pujangga justru kewalahan ketika menulis cerita tentang cintanya
Tidak seperti cinta-cinta yang ditulisnya tentang orang lain, atau tentang sebuah dunia di luar sana
Terkadang seorang pujangga paling kewalahan ketika tidak mempunyai cukup jabatan untuk berucap cinta
Ah, andai saja aku memiliki posisi lebih untuk berkata
Berkata apa saja yang kuingin

28 March 2009

Untitled

Kubiarkan hujan memelukku
dalam dingin yang menembus asaku
suaranyanya mengalahkan segala jeritan
rintiknya perlahan menutupi air mataku
dan kuhanya mampu membeku di antaranya
pada siapa kuteriakkan kemarahan ini?
padamu? padanya? atau pada langit?
rintik hari ini mengingatkanku cara tuk tersenyum
dan aku tersenyum mengingatnya

04 February 2009

Aku Adalah Aku

Oleh: Resty Falinedel

Percayalah, aku adalah aku
Aku bukan makhluk yang bersembunyi
di balik tirai kemunafikan itu

Percayalah, aku adalah aku
aku bukan sosok pengecut yang berlari
dari nyata di hadapanku

Aku adalah aku
Aku hanya bersembunyi
dari kerapuhanku di balik keangkuhan tanpa hati

Ku mohon percayalah
Aku adalah aku
meski terkadang tak terlihat seperti aku adanya
Lihatlah aku dari sudut hati yang berbeda

Maka kau akan yakin bahwa aku adalah aku
Percayalah.....

19 November 2008

Rumah Kosong Itu

Oleh: Resty Falinedel

Hari ini aku lewat lagi di sebuah jalan kecil
Sekilas kupandangi rumah kosong dipinggir jalan itu
Rumah yang kosong meski ada pemiliknya di sana
Aku heran, jalan kecil itu sering kulewati
Padahal masih ada banyak jalan di kotaku yang hancur ini
Sama seperti hari sebelumnya
rumah itu masih tetap kosong
Bahkan berkali kali aku melihat sekilas
ke arah rumah di pinggir jalan kecil itu
Dan rumah itu masih tetap kosong
Kosong tanpamu
Setiap melihat rumah kosong itu
Aku semakin merindukanmu
WOOOOIIIIIIII….. PULANG DUNX
AKU BOSAN MELIHAT RUMAH KOSONG ITU

Perdebatanku dengan Pikiranku

Oleh: Resty Falinedel

Aku berdebat dengan pikiranku
Tentang sesuatu
yang tak pernah dapat kupahami hingga saat ini
Dan kami tak pernah sependapat
Tentang sesuatu yang tak pernah dapat kupahami itu
Kami terus berdebat
Aku dan pikiranku tetap tak sependapat
Aku adalah manusia
Tidak, aku adalah makhluk asing tanpa jiwa
Aku miliki perasaan
Tidak, perasaanku telah membeku
Dalam perdebatan itu
Tanpa disadari aku dan pikiranku telah berada di tengah samudera
Yang kalah dalam perdebatan itu akan tenggelam
Aku tak tau siapa yang benar
Aku ato pikiranku
Yang kutau aku hanya sendiri
Sedang hatiku berpihak pada pikiranku
Dan aku tenggelam dalam samudera keegoisan

Hening

Oleh: Resty Falinedel

Malam kian pekat
Semakin pekat dan menghitam
Sepi…hening…
Memasungku dalam kesendirian
Malam kian pekat
Aku ingin bermimpi
Berada dalam istana tidurku
Bukan di sini, di keheningan ini
Jika mentari mulai menyapu malam
Perlahan keheningan menghilang
Dan akan kutunggu lagi Sang malam

Entah

Oleh: Resty Falinedel

Fatamorgana apa yang kulihat ini?
Aku ingin terus di sini, berada di sini
Lihatlah relung-relung kelam ini
Indahnya kegelapan akan beterbangan, berhamburan
Naungan birupun membentang

Erangan sepiku selalu bersahutan
Dengarkanlah takut yang mencekam ini
Entah apa, entah siapa, entah dimana dan entah mengapa
Lorong-lorong hitam meraihmu, membawamu, melenyapkanmu
Waktupun akan meninggalkanku di dunia asing ini
Enyah dari pandanganku yang layu
Isak tangis menjatuhkanku
Sunyi, hanyalah sunyi, hanya kesunyian tanpa hadirmu

Bukan Bidadari

Oleh: Resty Falinedel

Ada seraut wajah tanpa emosi
Menatap hampa dari balik matanya
Entah kemana pikirannya berlayar
Entah dimana hatinya tertanam
Aku memang bukan bidadari
Berparas indah meinyejukkan hati
Aku hanya pantas disebut manusia

Aku menghampiri sosok tanpa emosi itu
Petiklah senar gitar itu
Nyanyikan lagu dari hatimu
Ungkapkan rasa yang telah menjadi endapan
Biarkanlah endapan itu menguap
Suaramu, biarkanlah bersuara
Amarahmu, biarkanlah membentak
Dan berteriaklah jika itu menenangkanmu

Sosok tanpa emosi itu memerah, tersenyum
Ia menghampiriku
Kau memang bukanlah bidadari
Tapi kau mampu menyinari hatiku
Kau memang bukan bidadari
Kau pantas kusebut sahabat

Apapun Itu, Tak Lagi Berarti

Oleh: Resty Falinedel

Rajutan rindu robohkan raguku
Enyah sudah semua yang ada di hati ini
Semakin sakiti sukmaku
Terlalu tajam tak terhenti
Memasungku di tiang pengkhianatan
Untaian kenangan apa lagi yang harus kucampakkan
Riak kebencian merasukiku
Segala kebohongan telah menelanku
Apapun itu, telah menghancurkanku
Lagu pilu mengalun dari bibirmu
Ingkari saja mata berkabut itu
Namamu hanya sebuah kata tak berarti bagiku kini
Apapun itu, telah menghancurkanku
Apapun itu, tak lagi berarti

10 September 2008

Aku dan Kebosananku

Oleh: Resty Falinedel


Aku berada di sini

dengan kebosanan menemaniku

Aku bosan menatap orang-orang

yang bertingkah seperti orang-orangan

Aku bosan menyaksikan tarian pepohonan

Aku bosan mendengar teriakan kemunafikan

Aku bosan mengetahui kebenaran

sedangkan orang-orang menyalahinya

Aku bosan dengan pikiranku

yang selalu merasa bosan pada kebosanan

Dan kebosanan telah bosan menemaniku…

Kau, Dia, dan Semua Tentangku

Oleh: Resty Falinedel


Aku suka bintang

Apa kau tau?

Tidak, kau tak pernah tau itu

Hanya dia yang tau

Aku suka birunya lautan

Dan birunya langit tanpa awan

Apa kau tau itu?

Kau tetap tak tau

Hanya dia yang tau

Mataku tersenyum dan bibirku bernyanyi

Sedangkan hatiku menangis

Apa kau tau itu?

Kau tak pernah tau

Hanya dia yang tau

Pensilku tuliskan kata-kata cinta

Sedangkan tanganku menentangnya

Apa kau tau itu?

Kau tak pernah tau

Hanya dia yang mampu mengetahuinya

Akupun tau pensil yang ia miliki

Juga tuliskan kata-kata cinta untukku

Dan tangannya mengayunkan pensil itu

Dengan sebuah ketulusan

Kau bukanlah dia

Dan dia bukanlah kau yang tak tau apa-apa tentangku

28 August 2008

Nafas yang Tertinggal

Oleh: Resty Falinedel

Kau pergi, aku di sini

Kau jauh di sana, aku di sini

Tanpamu aku terikat di sini

Terikat sepi…

Waktu memasungku

Berantai kerinduan di tangan dan kakiku

Sedangkan hatiku memanggilmu tuk kembali

Tidakkah kau sadari?

Ada yang tertinggal di sini, bersamaku

Andai saja kau dapat kembali

Akan kuhembuskan nafas yang tertinggal

Agar jantungmu berdenyut lagi …

Lautan Birumu

Oleh: Resty Falinedel


Siapa yang mengerti bisikan riak ombak?

Aku merindukanmu

Perjalanan gelombang-gelombangnya?

Penuh garam dan asin

Suara hempasannya di bebatuan karang?

Terasa begitu sakit, perih

Dan amukannya saat tiba di garis pantai berpasir?

Kemarahan yang merah

Bahkan angin yang menyapa puncak cemarapun tak pernah tau

Bingung menyaksikan dunia

Sedangkan awan yang menggelantung

tetap setia mengawasi dari atas sana

tanpa mengerti apa-apa

Tanpa mengerti apa-apa

Hanya aku yang mengerti lautan birumu

Aku dan Kalian

Oleh: Resty Falinedel


Tertiup sang bayu

Debu di terik panas beterbangan

Kemana bertiup ke sana ia pergi

Berputar mengikuti tiupannya

Tanpa ada yang peduli

Debu memang tak pernah berarti

Tak pernah terlihat

Tak pernah dihiraukan

Dan terabaikan

Akulah debu

Sedangkan kalian semua adalah taik…

hack,hack,hack...

21 August 2008

Hanya Hitam dan Putih

Oleh: Resty Falinedel

Samar-samar pandanganku diselubungi kabut
Entah apa yang ada di hadapanku
Entah apa yang ada di belakangku
Semua semakin samar-samar

Bola mataku kian membulat
Berusaha tuk melihat lebih jelas
Tapi semua tetap saja sama
Semua semakin samara-samar

Bagaimana aku bisa melukiskan
semua yang ada di hadapanku?
Yang kulihat hanyalah hitam dan putih
Yang semakin samar-samar

Ingin kugoreskan banyak warna
di permukaan kanvasku
Tapi aku hanya mengenal dua warna
Hitam, putih…

Pada Matahari

Oleh: Resty Falinedel

Yth. Matahari Sang Raja Siang
di
Pusat Tata Surya

Melalui surat ini saya sampaikan kepada Sang Raja Siang bahwa saya merasa sangat terganggu oleh pancaran sinar anda.
Oleh sebab itu saya mohon agar Sang Raja Siang berkenan untuk tidak menyinari dunia saya.
Atas perhatian Sang Raja Siang saya mengucapkan terima kasih.

Tertanda
Penguasa Kegelapan

Woi…!!!
Matahari!!!
Kenapa kamu muncul lagi pagi ini?
Aku baru saja menikmati gelapku
Heh!!!
Cahayamu menyilaukan mata suramku
Ingin aku menyirammu
Mengguyurmu dengan lautan hitam
Agar nyalamu padam tak
bersinar
Matahari!!!
Aku benci terangmu itu
Kau menelan hitam pekat kegelapanku
Aku tak mau lagi melihat nyalamu itu
Pergi! Pergilah! Menjauh dariku!!!
Biarkan aku terlelap dalam kegelapan
Menikmati hitamnya duniaku…

Perjalanan Menuju Akhir

Oleh: Resty Falinedel

Di mana langkah ini akan terhenti
Lelah, aku lelah bejalan di antara bebatuan tajam
Satu langkah ku berjalan
Terlukis satu goresan baru di telapak kakiku
Perih, hanya perih yang mengiringi langkahku

Cacian tiada henti hujani gedung rakyat
Sumpah-serapah menjadi saksi
Sejenak aku ingin semua panca inderaku mati
Aku muak menyaksikan hiruk-pikuk kelicikan

Di mana langkah ini akan terhenti
Bebatuan tajam tetap setia menemani perjalananku
Akupun berlari,
Lari dengan sisa-sisa langkahku
Tetap berlari dengan goresan goresan yang kian perih

Tanah airku yang kaya dengan hijaunya
Tanah airku yang kaya dengan birunya
Kini…
Tanah airku yang kaya dengan keserakahannya
Tanah airku yang kaya dengan kecoa busuknya
Sesungguhnya,
Tanah airku miskin akan moral
Apa hanya aku yang menyadarinya?
Apa hanya aku yang merasakan perihnya penderitaan tanah airku?

Langkahku terhenti di sebuah lembah curam
Adakah satu harapan tertanam di dasarnya
Kuperhatikan lagi dasar lembah itu dengan seksama
Ternyata itu bukanlah sebuah harapan
Di lembah curam itulah akhir dari tanah airku

Serpihan Hati

Oleh: Resty Falinedel

Aku dipasung oleh waktu
Berantaikan kenangan di kedua kakiku
Terikat masa lalu di tanganku
Aku ingin pergi
Aku tak ingin berada lembah kenangan
Tapi kenapa langkah ini tetap terpaku?
Aaaaaaggghh….!!!!
Izinkan aku meninggalkan jejak-jejak masa lalu ini!!!
Kepada siapa aku berteriak?
Padamu? Padanya? Atau pada Sang waktu?
Bahkan kenangan itupun enggan berlalu
Aku masih di sini

Berada di lembah kenangan ini
Aku masih di sini
Bersama serpihan hati
Serpihan hati yang kau tinggalkan untukku
Serpihan hatimu…