28 March 2009

UNTITLED

Kubiarkan hujan memelukku
dalam dingin yang menembus asaku
suaranyanya mengalahkan segala jeritan
rintiknya perlahan menutupi air mataku
dan kuhanya mampu membeku di antaranya
pada siapa kuteriakkan kemarahan ini?
padamu? padanya? atau pada langit?
rintik hari ini mengingatkanku cara tuk tersenyum
dan aku tersenyum mengingatnya
Posted by Sajak Idealis at 1:30 AM | 2 comments   Links to this post
23 February 2009

Chapter 9 - (untuk ibumu)

Ibu tua itu termenung diatas sajadahnya. Dia memikirkan anak perempuannya yang hingga saat ini tak lagi berjemaah bersamanya. Namun apakah sang anak mengerti?
Ibu tua itu termenung diatas sajadahnya. Dia memikirkan anak perempuannya yang tak lagi perawan. Apa yang harus dikatakannya nanti pada keluarga mempelai pria. Dia bingung dan hanya menadahkan tangan dengan kepala tertunduk.
Ibu tua itu berdiri, dihampirinya sang anak yang sedang tertidur pulas sehabis berpesta. Mengusap kening, dan sebuah ciuman hangat menjadi hadiah dari si ibu malam itu. Si anak hanya tersentak layu, namun kembali terlelap. Ibu itu berjalan gontai kearah dapur. Kuat digenggamnya tasbih hijau ditangan kirinya. Di ambilnya garpu di atas meja segiempat itu, seketika ditancapkannya tepat dileher. Seperti tak merasakan sakit berjalan menuju kamar anak perempuannya. Dicabutnya garpu tadi dari lehernya, digigitnya tasbih tadi kuat dan darah dibajunya. Dia menangis. Entah dia kebal atau apalah itu jelas terlihat bahwa si ibu seperti tak merasakan sakit. Kembali di usapnya kening si anak, dan berbaring di samping si anak hingga matahari kembali, sedangkan dia merasa nyaman tak kembali.
Posted by Sajak Idealis at 5:16 AM | 0 comments   Links to this post

Karena Aku Laki

Satu, aku mengenalmu
dua, aku jatuh cinta
tiga, kita bercinta
last but not least, kau berubah
itu memang bukan akhir
Posted by Sajak Idealis at 4:52 AM | 0 comments   Links to this post
04 February 2009

AKU ADALAH AKU

BY : RESTY FALINEDEL

Percayalah, aku adalah aku

Aku bukan makhluk yang bersembunyi

di balik tirai kemunafikan itu

Percayalah, aku adalah aku

aku bukan sosok pengecut yang berlari

dari nyata di hadapanku

Aku adalah aku

Aku hanya bersembunyi

dari kerapuhanku di balik keangkuhan tanpa hati

Ku mohon percayalah

Aku adalah aku

meski terkadang tak terlihat seperti aku adanya

Lihatlah aku dari sudut hati yang berbeda

Maka kau akan yakin bahwa aku adalah aku

Percayalah.....
Posted by Sajak Idealis at 8:14 PM | 1 comments   Links to this post
15 December 2008

Ketika Aku Tanpa Onha

Aku merasakannya kemarin,

Saat aku harus berada 30 menit ke utara,

Aku merasakannya kemarin,

Saat kesendirian bercumbu dengan ketakutan,

Aku merasakannya kemarin, sekarang, dan esok.

Dan akan terus kurasakan saat sepi melanda,

Saat aku harus berhenti memeluknya,

Aku merasakannya kemarin

Ketika hidupku tanpa Onha

Posted by Sajak Idealis at 8:16 PM | 0 comments   Links to this post
Labels: ,
28 November 2008

Kerinduan

Oleh: Arric L. Manabi

Mawar, kapan kau 'kan pulang?
Tidakkah rindu menggerogoti hatimu?
Seperti ia telah memakan hati dan separuh jantungku.

Sungguh keterlaluan kau, mawar!
Kau biarkan aku tercabik ganas
Asmaraku yang telah berbuat

Dan tak pula kau balut dengan belaian hangatmu
Kau biarkan darahku memandikanku

Dan tak pula kunjung kau sapu
Kenapa kau biarkan darah ini membusuk?

Kau kira rindu ini nikmat?!

Prabicara

Oleh: Arric L. Manabi

Kita pernah hidup pada zaman prabicara, ketika zaman berbahasa bukan dengan kata-kata
Kita sama sekali tidak pernah berucap cinta
Bahkan untuk mengatakan "aku cinta kamu."

Kau tau?
Aku lebih suka hidup di zaman itu.
Orang-orang menganggap cinta bukan hanya omong kosong semata
Mereka tak sembarangan mempertuankan cinta

Tidak seperti zaman di mana aku tersesat sekarang
Mereka tidak hanya berucap cinta bahkan berbual cinta!

Aku ingin kembali ke sana.
Ingin rasanya aku menyatakan cinta kepadamu sekali lagi
dan sekali lagi
Bukan lewat bicara, bukan melalui bibir ini.
Melainkan dari getaran hati.
Getaran hati yang kukirimkan lewat nada-nada indah pada hangat malammu ketika kau terlelap
Karena begitulah cara orang-orang zaman prabicara menyatakan cintanya
Subscribe to: Posts (Atom)