Pages

Showing posts with label Hw. Yanda. Show all posts
Showing posts with label Hw. Yanda. Show all posts

18 July 2010

Sepi itu tidak berjudul...

Aku tidak ingin terjatuh dalam kesepian, lebih baik aku bungkam mulut ini dan memutuskan tidak bersuara daripada sepi. Setiap sisi hidupku ingin ku pasangi bohlam yang paling terang, agar setiap tepian hidupku terang. Dan biarlah ditengah hanya samar, ditempat aku berada.

Biarlah aku berhenti tersenyum, selama itu pula aku mendapat senyuman. Dan aku pun tidak berguna untuk tersenyum atau membuat senyuman. Sesuatu yang indah dari hidupku biarlah ada di tepian. Dan aku tetap akan samar ditengah tempat aku terlelap.

Yang aku butuhkan bukan disini tepat di jantungku. Aku butuh darah di seluruh tubuhku maka aku jauh dari sekarat, akupun jauh dari liang lahat. Jantung ini apalah, hanya tempat kalian singgahi. Dan yang ku mau bukan yang disinggahi……...yang menyinggahi...

BBM, YM, Email, FB, TWIT dan maksimalkan hidupmu tanpa keyakinan.

aku punya smartphone, aku genggam dan aku bawa kemanapun.
setiap email dan pemberitahuan yang lainnya masuk aku selalu terbelalak dan tak berhenti menghebohkan diri.
aku memutuskan untuk selalu terkoneksi dengan dunia.

akulah smartphone, aku di genggam dan dibawa kemanapun.
tanpa mereka sadari aku lelah memberitahu mereka untuk berhenti menatapku.
aku memutuskan koneksi mereka dengan keyakinannya.

Sudahkan anda berniat?

Kata mereka sholatlah kamu sebelum di sholatkan.
tapi bagiku sholatlah kamu jika niat itu telah ada.
sebab jika dunia mulai gelap kehilangan daya,
belum tentu para penyolat dapat dipertanyakan
ke-khusukan mereka!

21 July 2009

Tinggal selamanya

jari jariku bersiap di atas kertas
menulis nama dan kisah tentang kita
terangnya cahaya lampu membuat mataku silau
terkadang buyarkan semua kata yang telah kurangkai

ini tentang kita, tentang apa yang kita lalui
dan bagaimana caramu mengakhiri semuanya
seperti seekor pipit mungil wajahmu
membutakan hasrat kecurigaanku padamu


betapa seorang wanita yang tiap harinya bersamaku
memeluk dan tidur disampingku, menghirup udara yang sama denganku
kita hitung tiap lembaran kertas yang kau tulisi namaku
ku usap tangan mungilmu yang bertuliskan namaku
hasil sayatan pertamamu saat tak kuat ingin memelukku
dan berakhir sudah dengan air mata yang menetes tidak untukku

catatan ini takkan berakhir begitu saja
saat kau koyakkan maka saat itulah dia tinggal selamanya

23 February 2009

Chapter 9 - (untuk ibumu)

Ibu tua itu termenung diatas sajadahnya. Dia memikirkan anak perempuannya yang hingga saat ini tak lagi berjemaah bersamanya. Namun apakah sang anak mengerti?
Ibu tua itu termenung diatas sajadahnya. Dia memikirkan anak perempuannya yang tak lagi perawan. Apa yang harus dikatakannya nanti pada keluarga mempelai pria. Dia bingung dan hanya menadahkan tangan dengan kepala tertunduk.
Ibu tua itu berdiri, dihampirinya sang anak yang sedang tertidur pulas sehabis berpesta. Mengusap kening, dan sebuah ciuman hangat menjadi hadiah dari si ibu malam itu. Si anak hanya tersentak layu, namun kembali terlelap. Ibu itu berjalan gontai kearah dapur. Kuat digenggamnya tasbih hijau ditangan kirinya. Di ambilnya garpu di atas meja segiempat itu, seketika ditancapkannya tepat dileher. Seperti tak merasakan sakit berjalan menuju kamar anak perempuannya. Dicabutnya garpu tadi dari lehernya, digigitnya tasbih tadi kuat dan darah dibajunya. Dia menangis. Entah dia kebal atau apalah itu jelas terlihat bahwa si ibu seperti tak merasakan sakit. Kembali di usapnya kening si anak, dan berbaring di samping si anak hingga matahari kembali, sedangkan dia merasa nyaman tak kembali.

Karena Aku Laki

Satu, aku mengenalmu
dua, aku jatuh cinta
tiga, kita bercinta
last but not least, kau berubah
itu memang bukan akhir

15 December 2008

Ketika Aku Tanpa Onha

Aku merasakannya kemarin,
Saat aku harus berada 30 menit ke utara,

Aku merasakannya kemarin,
Saat kesendirian bercumbu dengan ketakutan,

Aku merasakannya kemarin, sekarang, dan esok.
Dan akan terus kurasakan saat sepi melanda,
Saat aku harus berhenti memeluknya,

Aku merasakannya kemarin
Ketika hidupku tanpa Onha

30 July 2008

Ibu Budi

Oleh: Hw. Yanda

Ini Ibu Budi
Budi ini Ibu

Apa kamu tau maknanya Nak?
Mungkin tidak hingga kamu mau mencuci piring ini
atau takkan pernah selagi kamu tak ikut serta menangisi bangkai sibapak

Cukup lama aku merindukan tangisanmu minta tetek,
menghembus keningmu saat kehangatan tak sanggup kau redam

Tapi tubuhmu yang terlalu tinggi enggan menunduk menatapku

Ini Ibu Budi
Budi ini Ibu
dan aku merindukan kepulanganmu Malinku.

28 July 2008

Wanitaku Layang

Oleh: Hw. Yanda

hello wanita kurus kerempeng,
mengapa kau begitu angkuh tuk terbang tinggi sendirian?
tidakkah kau ingin disampingku dan mencicipi anggur ini?

kemarilah...

hentikan kekonyolanmu tuk melawan raja udara,
kau pikir dengan kertas tiga rupa itu kau dapat membuatnya tertawa?
Tidak!
justru malah kau yang kan menangis tuk menghujamkan dirimu di rerumputan ini

kemarilah...

aku telah jatuh cinta padamu,
seperti Kahli menyelimuti Karami dengan puisi dan cintanya
kan kubuat hal serupa.

atau kau ingin melayang lebih tinggi?

kemarilah...
tuk kutambah talimu, dan nanti di atas sana buatlah garis membelah awan
yang membentuk nama kita,

dan setelah itu,
kau milikku.

Beri Aku Judul

Oleh: Hw. Yanda

Aku ini orang kaya
apa tidak kau lihat kerlap-kerlip ditubuhku menyilaukan matamu
tidak terciumkah olehmu wangiku disetiap udara yang kau hirup
coba kau jilati manisnya liur dlantai, itu milikku!

enyah kau!
jangan halangi kaummu dibalik stir yang kan menjemputku.

Apa kau tidak lihat betapa sombongnya aku? Itu pertanda aqu dapat membeli
semua warna hidupmu

Aku ini orang kaya, dan kau makan dari sepatuku yang kau usap!

18 July 2008

Emosi?

Oleh: Hw. Yanda

Aku memang patah hati
Kalau dibilang sakit, ya udah pasti sakit,
mungkin seperti papan coklat ini yang ku tusuk-tusuk paku,
atau seperti batu yang kulempar menepis wajah sungai itu,

Tapi rambut tak menutup mata,
atau lukisan ini dua warna.

Tidak kepala tertunduk,
dengan badan bungkuk kaki merapat.

Aku ya aku.
Biar sakit menguliti waktu,
Aku ya Aku.
Aku tidak tunduk oleh EMOsi.