02 August 2011
'Nuju
18 July 2010
Sepi itu tidak berjudul...
Aku tidak ingin terjatuh dalam kesepian, lebih baik aku bungkam mulut ini dan memutuskan tidak bersuara daripada sepi. Setiap sisi hidupku ingin ku pasangi bohlam yang paling terang, agar setiap tepian hidupku terang. Dan biarlah ditengah hanya samar, ditempat aku berada.
Biarlah aku berhenti tersenyum, selama itu pula aku mendapat senyuman. Dan aku pun tidak berguna untuk tersenyum atau membuat senyuman. Sesuatu yang indah dari hidupku biarlah ada di tepian. Dan aku tetap akan samar ditengah tempat aku terlelap.
Yang aku butuhkan bukan disini tepat di jantungku. Aku butuh darah di seluruh tubuhku maka aku jauh dari sekarat, akupun jauh dari liang lahat. Jantung ini apalah, hanya tempat kalian singgahi. Dan yang ku mau bukan yang disinggahi……...yang menyinggahi...
19 November 2008
Perdebatanku dengan Pikiranku
Aku berdebat dengan pikiranku
Tentang sesuatu
yang tak pernah dapat kupahami hingga saat ini
Dan kami tak pernah sependapat
Tentang sesuatu yang tak pernah dapat kupahami itu
Kami terus berdebat
Aku dan pikiranku tetap tak sependapat
Aku adalah manusia
Tidak, aku adalah makhluk asing tanpa jiwa
Aku miliki perasaan
Tidak, perasaanku telah membeku
Dalam perdebatan itu
Tanpa disadari aku dan pikiranku telah berada di tengah samudera
Yang kalah dalam perdebatan itu akan tenggelam
Aku tak tau siapa yang benar
Aku ato pikiranku
Yang kutau aku hanya sendiri
Sedang hatiku berpihak pada pikiranku
Dan aku tenggelam dalam samudera keegoisan
Hening
Malam kian pekat
Semakin pekat dan menghitam
Sepi…hening…
Memasungku dalam kesendirian
Malam kian pekat
Aku ingin bermimpi
Berada dalam istana tidurku
Bukan di sini, di keheningan ini
Jika mentari mulai menyapu malam
Perlahan keheningan menghilang
Dan akan kutunggu lagi Sang malam
Entah
Fatamorgana apa yang kulihat ini?
Aku ingin terus di sini, berada di sini
Lihatlah relung-relung kelam ini
Indahnya kegelapan akan beterbangan, berhamburan
Naungan birupun membentang
Erangan sepiku selalu bersahutan
Dengarkanlah takut yang mencekam ini
Entah apa, entah siapa, entah dimana dan entah mengapa
Lorong-lorong hitam meraihmu, membawamu, melenyapkanmu
Waktupun akan meninggalkanku di dunia asing ini
Enyah dari pandanganku yang layu
Isak tangis menjatuhkanku
Sunyi, hanyalah sunyi, hanya kesunyian tanpa hadirmu
10 September 2008
Aku dan Kebosananku
Oleh: Resty Falinedel
Aku berada di sini
dengan kebosanan menemaniku
Aku bosan menatap orang-orang
yang bertingkah seperti orang-orangan
Aku bosan menyaksikan tarian pepohonan
Aku bosan mendengar teriakan kemunafikan
Aku bosan mengetahui kebenaran
sedangkan orang-orang menyalahinya
Aku bosan dengan pikiranku
yang selalu merasa bosan pada kebosanan
Dan kebosanan telah bosan menemaniku…
Kau, Dia, dan Semua Tentangku
Oleh: Resty Falinedel
Aku suka bintang
Apa kau tau?
Tidak, kau tak pernah tau itu
Hanya dia yang tau
Aku suka birunya lautan
Dan birunya langit tanpa awan
Apa kau tau itu?
Kau tetap tak tau
Hanya dia yang tau
Mataku tersenyum dan bibirku bernyanyi
Sedangkan hatiku menangis
Apa kau tau itu?
Kau tak pernah tau
Hanya dia yang tau
Pensilku tuliskan kata-kata cinta
Sedangkan tanganku menentangnya
Apa kau tau itu?
Kau tak pernah tau
Hanya dia yang mampu mengetahuinya
Akupun tau pensil yang ia miliki
Juga tuliskan kata-kata cinta untukku
Dan tangannya mengayunkan pensil itu
Dengan sebuah ketulusan
Kau bukanlah dia
Dan dia bukanlah kau yang tak tau apa-apa tentangku
28 August 2008
Lautan Birumu
Oleh: Resty Falinedel
Siapa yang mengerti bisikan riak ombak?
Aku merindukanmu
Perjalanan gelombang-gelombangnya?
Penuh garam dan asin
Suara hempasannya di bebatuan karang?
Terasa begitu sakit, perih
Dan amukannya saat tiba di garis pantai berpasir?
Kemarahan yang merah
Bahkan angin yang menyapa puncak cemarapun tak pernah tau
Bingung menyaksikan dunia
Sedangkan awan yang menggelantung
tetap setia mengawasi dari atas
tanpa mengerti apa-apa
Tanpa mengerti apa-apa
Hanya aku yang mengerti lautan birumu
Aku dan Kalian
Oleh: Resty Falinedel
Tertiup sang bayu
Debu di terik panas beterbangan
Kemana bertiup ke
Berputar mengikuti tiupannya
Tanpa ada yang peduli
Debu memang tak pernah berarti
Tak pernah terlihat
Tak pernah dihiraukan
Dan terabaikan
Akulah debu
Sedangkan kalian semua adalah taik…
hack,hack,hack...
26 August 2008
Andai Tuhan Khilaf
Untuk: Ch. Anwar dan karya-karyanya yang tak 'kan pernah mati
Andai Tuhan khilaf
dan aku lahir jauh sebelum aku lahir
Andai Tuhan khilaf
dan aku tidak menetas di tahun 90
tapi 45
Ya, andai Tuhan khilaf
Aku pasti mendengar langsung soekarno berproklamasi
Aku pasti mendengar gemuruh bom atom yang ngeri
Aku pasti melihat sang Chairil
atau paling tidak bangkai binatang jalang yang kutangisi
Andai Tuhan khilaf
Sayang, Tuhan tidak khilaf
21 August 2008
Hanya Hitam dan Putih
Samar-samar pandanganku diselubungi kabut
Entah apa yang ada di hadapanku
Entah apa yang ada di belakangku
Semua semakin samar-samar
Bola mataku kian membulat
Berusaha tuk melihat lebih jelas
Tapi semua tetap saja sama
Semua semakin samara-samar
Bagaimana aku bisa melukiskan
semua yang ada di hadapanku?
Yang kulihat hanyalah hitam dan putih
Yang semakin samar-samar
Ingin kugoreskan banyak warna
di permukaan kanvasku
Tapi aku hanya mengenal dua warna
Hitam, putih…
Pada Matahari
Yth. Matahari Sang Raja Siang
di
Pusat Tata Surya
Melalui surat ini saya sampaikan kepada Sang Raja Siang bahwa saya merasa sangat terganggu oleh pancaran sinar anda.
Oleh sebab itu saya mohon agar Sang Raja Siang berkenan untuk tidak menyinari dunia saya.
Atas perhatian Sang Raja Siang saya mengucapkan terima kasih.
Tertanda
Penguasa Kegelapan
Woi…!!!
Matahari!!!
Kenapa kamu muncul lagi pagi ini?
Aku baru saja menikmati gelapku
Heh!!!
Cahayamu menyilaukan mata suramku
Ingin aku menyirammu
Mengguyurmu dengan lautan hitam
Agar nyalamu padam tak
bersinar
Matahari!!!
Aku benci terangmu itu
Kau menelan hitam pekat kegelapanku
Aku tak mau lagi melihat nyalamu itu
Pergi! Pergilah! Menjauh dariku!!!
Biarkan aku terlelap dalam kegelapan
Menikmati hitamnya duniaku…
Serpihan Hati
Aku dipasung oleh waktu
Berantaikan kenangan di kedua kakiku
Terikat masa lalu di tanganku
Aku ingin pergi
Aku tak ingin berada lembah kenangan
Tapi kenapa langkah ini tetap terpaku?
Aaaaaaggghh….!!!!
Izinkan aku meninggalkan jejak-jejak masa lalu ini!!!
Kepada siapa aku berteriak?
Padamu? Padanya? Atau pada Sang waktu?
Bahkan kenangan itupun enggan berlalu
Aku masih di sini
Berada di lembah kenangan ini
Aku masih di sini
Bersama serpihan hati
Serpihan hati yang kau tinggalkan untukku
Serpihan hatimu…
06 August 2008
Izinkan Aku Sembahyang Sekali Saja
Kau ada dalam subuhku
Duduk berkuasa di atas pundakku
Menahan tubuhku agar tak terjaga
Kau selalu ada setiap zuhurku
Menjelma menjadi kesibukan dunia
Hingga asharku
Dalam magribku kau mematut diri habis-habisan
Membawaku berjalan-jalan
Oh, tidak!
Mengapa kau masih setia saja menemaniku hingga isya?
Merangkulku dalam kehangatan kasur empuk nan menghilangkan penat
Setanku yang manis,
tolong, izinkan aku sembahyang sekali saja
Setelah itu kau boleh menggodaku lagi
31 July 2008
Jilati Aku
Beberapa pasang mata menatapku
dari lorong kecil di depan sana
Ketika aku sedang berfriendster ria
Lirak-lirik penuh gairah, entah gerangan apa
Beberapa pasang mata berjalan penuh pesona
Menunjukkan segenap apa yang bisa ditunjukkan
Seperti mencari perhatian
Sibuk-sibuk tak karuan
Beberapa pasang mata ternyata sedang menjilat
Seseorang yang duduk berwibawa tak jauh darinya
Aku mencibir dalam hati
melihat beberapa pasang mata berubah gairah
merubah gaya
Ketika bosnya meninggalkan tempat kerja
Ah, andai aku juga dijilati mereka
28 July 2008
Beri Aku Judul
Aku ini orang kaya
apa tidak kau lihat kerlap-kerlip ditubuhku menyilaukan matamu
tidak terciumkah olehmu wangiku disetiap udara yang kau hirup
coba kau jilati manisnya liur dlantai, itu milikku!
enyah kau!
jangan halangi kaummu dibalik stir yang kan menjemputku.
Apa kau tidak lihat betapa sombongnya aku? Itu pertanda aqu dapat membeli
semua warna hidupmu
Aku ini orang kaya, dan kau makan dari sepatuku yang kau usap!
27 July 2008
Sebelum Membatu
Aku ingin menjelajahi dunia.
Dari kidul menuju utara.
Melewati india, negara yang dipenuhi fosil sansekerta.
Menikmati Afrika, tempat yang penuh peradaban istimewa.
Lalu berhenti di Korea, mencari kehidupan baru di sana.
Dari sini, semua akan segera di mulai.
Ya, segera di mulai.
Aku tak sabar!
Aku tak sabar menjelajahi dunia!
Ya Tuhan...
Kenapa kau biarkan aku terkungkung dalam harapan besar
Berikanlah segera!
Sebelum jerawatku membatu
sebelum dikutuk jadi Malin Kundang
Hanya Pesan Pendek
Kutuliskan sebuah salam pembuka
"Assalamualaikum!" namun engkau tak menyahut panggilanku.
Berharap kau meluangkan sedikit pulsa untuk membaca rindu di dada, kutuliskan "Sore." ucapku tanpa nada
Tak kunjung digubris, tanganku berkata "Malam." untuk ketiga kalinya aku masih setia mencoba.
Tiga jam berlalu, tiga jam darah merebus amarah, kau baru menjawab.
Ah.. Akhirnya...
"Walaikumsalam, sore juga, malam juga."
usaha yang bagus untuk meredam amarah, tapi kukira percuma.
"Pulsa Re lagi abis, Ri. Ini aja nyuri hp papa. Napa?"
lagi-lagi usaha yang bagus, tapi tetap percuma.
"Kangen Ri ma Re?"
"Ndak do! Ri sms ampe tiga kali, cuma iseng-iseng aja!"
Dan pembicaraan itu berlanjut.
Ini sajak, bukan diary sms. Aku berhenti menulis sampai di sini.
25 July 2008
Dua Hariku Tanpa Al-Qur'an
20 Juli 2008
Dua hari aku tidak membuka Al-Qur'an
Setelah setan merasukiku lagi
Dua hari aku tidak membuka Al-Qur'an
Dua hari aku dikurung bingung
"Tidak bertahan lama lagi?"
Dua hari aku dimakan bosan
"Berapa lama aku harus dipistol tolol?"
dor... dor... dor...
Bahkan ketika nadaku masih cempreng
Bang... bang... bang...
Sudahlah, dua hari sudah berlalu
Mari memulai wisata baru
Kubuka ayat-ayat setelah isya
dengan cemprengku, aku tetap bergairah
Aku semakin bahagia
Ketika akhirnya kubaca di halaman paling bawah
"Juz 1 berakhir di sini."
20 July 2008
Ini Masih Puisi Kami
Aku tau kau tau
Bahkan untuk bertukar link saja, kau ogah
Pasti kau masih ingat kami tak lebih dari satu lingkaran suara yang bisa ilang kapan saja
Kau pikir "mereka tak ada gunanya!"
Apa karena kami belum mencetak buku?
Apa karena nama kami tidak terpampang di media-media?
Seperti namamu
Tak salah, aku hanya mengidolakan Anwar
Penyair yang tlah lama mati itu