Oleh: Resty Falinedel
Di mana langkah ini akan terhenti
Lelah, aku lelah bejalan di antara bebatuan tajam
Satu langkah ku berjalan
Terlukis satu goresan baru di telapak kakiku
Perih, hanya perih yang mengiringi langkahku
Cacian tiada henti hujani gedung rakyat
Sumpah-serapah menjadi saksi
Sejenak aku ingin semua panca inderaku mati
Aku muak menyaksikan hiruk-pikuk kelicikan
Di mana langkah ini akan terhenti
Bebatuan tajam tetap setia menemani perjalananku
Akupun berlari,
Lari dengan sisa-sisa langkahku
Tetap berlari dengan goresan goresan yang kian perih
Tanah airku yang kaya dengan hijaunya
Tanah airku yang kaya dengan birunya
Kini…
Tanah airku yang kaya dengan keserakahannya
Tanah airku yang kaya dengan kecoa busuknya
Sesungguhnya,
Tanah airku miskin akan moral
Apa hanya aku yang menyadarinya?
Apa hanya aku yang merasakan perihnya penderitaan tanah airku?
Langkahku terhenti di sebuah lembah curam
Adakah satu harapan tertanam di dasarnya
Kuperhatikan lagi dasar lembah itu dengan seksama
Ternyata itu bukanlah sebuah harapan
Di lembah curam itulah akhir dari tanah airku
21 August 2008
Serpihan Hati
Oleh: Resty Falinedel
Aku dipasung oleh waktu
Berantaikan kenangan di kedua kakiku
Terikat masa lalu di tanganku
Aku ingin pergi
Aku tak ingin berada lembah kenangan
Tapi kenapa langkah ini tetap terpaku?
Aaaaaaggghh….!!!!
Izinkan aku meninggalkan jejak-jejak masa lalu ini!!!
Kepada siapa aku berteriak?
Padamu? Padanya? Atau pada Sang waktu?
Bahkan kenangan itupun enggan berlalu
Aku masih di sini
Berada di lembah kenangan ini
Aku masih di sini
Bersama serpihan hati
Serpihan hati yang kau tinggalkan untukku
Serpihan hatimu…
Aku dipasung oleh waktu
Berantaikan kenangan di kedua kakiku
Terikat masa lalu di tanganku
Aku ingin pergi
Aku tak ingin berada lembah kenangan
Tapi kenapa langkah ini tetap terpaku?
Aaaaaaggghh….!!!!
Izinkan aku meninggalkan jejak-jejak masa lalu ini!!!
Kepada siapa aku berteriak?
Padamu? Padanya? Atau pada Sang waktu?
Bahkan kenangan itupun enggan berlalu
Aku masih di sini
Berada di lembah kenangan ini
Aku masih di sini
Bersama serpihan hati
Serpihan hati yang kau tinggalkan untukku
Serpihan hatimu…
20 August 2008
Teka-teki
Oleh: H.F. Merdeka
Zaman-zaman seperti ini
Watak pemimpin adalah misteri
Setiap hari dihitung rakyat sebagai teka-teki
Zaman-zaman seperti ini
Selebriti tidak hanya bermain di tivi-tivi
Menambah jumlah pemimpin teka-teki
Zaman-zaman seperti ini
Mahasiswa tidak kuliah lagi
Sibuk menyuarakan aspirasi
Zaman-zaman seperti ini
Penyair menulis-nulis puisi
Untuk apa yang tidak orang mengerti
Zaman-zaman seperti ini
Watak pemimpin adalah misteri
Setiap hari dihitung rakyat sebagai teka-teki
Zaman-zaman seperti ini
Selebriti tidak hanya bermain di tivi-tivi
Menambah jumlah pemimpin teka-teki
Zaman-zaman seperti ini
Mahasiswa tidak kuliah lagi
Sibuk menyuarakan aspirasi
Zaman-zaman seperti ini
Penyair menulis-nulis puisi
Untuk apa yang tidak orang mengerti
Labels:
H.F. Merdeka,
Idealis Indonesiaku,
Idealis Sosial
11 August 2008
Andai Aku Menikahi Merdeka
Oleh: H.F. Merdeka
Ijab kabul telah terucap
antara aku dan seorang gadis yang bernama merdeka
Kugiring ia ke balik tirai kamar
yang remang
yang tegang
yang manis
yang romantis
Kubaringkan ia di atas peraduan
yang remang
yang tegang
yang manis
yang romantis
Kutelanjangi ia di depan tubuhku yang berkeringat
menahan hasrat
manahan teramat hasrat
Alangkah terkejutnya aku
Melihat gadis yang bernama merdeka itu
Tak seindah namanya
Tak seindah gaun yang kucampakkan ke lantai itu
Kulitnya berkudis
Berkurap-kurap
Panu melahap seperempat badan
Kutu air menelan kaki dan tangannya
Tak apalah
Aku telah menikahinya
Ini malam
yang remang
yang tegang
yang manis
yang romantis
Aku tetap mengawininya
Ijab kabul telah terucap
antara aku dan seorang gadis yang bernama merdeka
Kugiring ia ke balik tirai kamar
yang remang
yang tegang
yang manis
yang romantis
Kubaringkan ia di atas peraduan
yang remang
yang tegang
yang manis
yang romantis
Kutelanjangi ia di depan tubuhku yang berkeringat
menahan hasrat
manahan teramat hasrat
Alangkah terkejutnya aku
Melihat gadis yang bernama merdeka itu
Tak seindah namanya
Tak seindah gaun yang kucampakkan ke lantai itu
Kulitnya berkudis
Berkurap-kurap
Panu melahap seperempat badan
Kutu air menelan kaki dan tangannya
Tak apalah
Aku telah menikahinya
Ini malam
yang remang
yang tegang
yang manis
yang romantis
Aku tetap mengawininya
Labels:
H.F. Merdeka,
Idealis Indonesiaku,
Idealis Sosial
06 August 2008
Izinkan Aku Sembahyang Sekali Saja
Oleh: H.F. Merdeka
Kau ada dalam subuhku
Duduk berkuasa di atas pundakku
Menahan tubuhku agar tak terjaga
Kau selalu ada setiap zuhurku
Menjelma menjadi kesibukan dunia
Hingga asharku
Dalam magribku kau mematut diri habis-habisan
Membawaku berjalan-jalan
Oh, tidak!
Mengapa kau masih setia saja menemaniku hingga isya?
Merangkulku dalam kehangatan kasur empuk nan menghilangkan penat
Setanku yang manis,
tolong, izinkan aku sembahyang sekali saja
Setelah itu kau boleh menggodaku lagi
Kau ada dalam subuhku
Duduk berkuasa di atas pundakku
Menahan tubuhku agar tak terjaga
Kau selalu ada setiap zuhurku
Menjelma menjadi kesibukan dunia
Hingga asharku
Dalam magribku kau mematut diri habis-habisan
Membawaku berjalan-jalan
Oh, tidak!
Mengapa kau masih setia saja menemaniku hingga isya?
Merangkulku dalam kehangatan kasur empuk nan menghilangkan penat
Setanku yang manis,
tolong, izinkan aku sembahyang sekali saja
Setelah itu kau boleh menggodaku lagi
Subscribe to:
Posts (Atom)