Oleh: H.F. Merdeka
Seorang anak berteriak di bawah ketiak emaknya, "anjing!"
Si emak kaget mendengar kata umpatan dari bibir mungil
"Mak! Anjing! Lari mak!"
Binatang kelam berkaki empat berlari cepat
Emak dan anak hanya berkaki dua, namun berlari tak kalah cepat
Laju. Laju. Laju...
Emak tersudut
Anak tersudut
Anjing berhenti, menarik nafas, sambil menatap tajam kedua manusia yang terjepit di antara tebing dan anjing
Anjing sesak nafas
Anak sesak nafas
Emak sesak nafas
Emak, anak, anjing sesak nafas.
Dor!
Anjing mati ditembak pemburu dari belakang
Emak menganga
Anak menganga
Anjing menganga. Mati menganga
Pemburu itu?
19 August 2009
21 July 2009
Tinggal selamanya
jari jariku bersiap di atas kertas
menulis nama dan kisah tentang kita
terangnya cahaya lampu membuat mataku silau
terkadang buyarkan semua kata yang telah kurangkai
ini tentang kita, tentang apa yang kita lalui
dan bagaimana caramu mengakhiri semuanya
seperti seekor pipit mungil wajahmu
membutakan hasrat kecurigaanku padamu
betapa seorang wanita yang tiap harinya bersamaku
memeluk dan tidur disampingku, menghirup udara yang sama denganku
kita hitung tiap lembaran kertas yang kau tulisi namaku
ku usap tangan mungilmu yang bertuliskan namaku
hasil sayatan pertamamu saat tak kuat ingin memelukku
dan berakhir sudah dengan air mata yang menetes tidak untukku
catatan ini takkan berakhir begitu saja
saat kau koyakkan maka saat itulah dia tinggal selamanya
menulis nama dan kisah tentang kita
terangnya cahaya lampu membuat mataku silau
terkadang buyarkan semua kata yang telah kurangkai
ini tentang kita, tentang apa yang kita lalui
dan bagaimana caramu mengakhiri semuanya
seperti seekor pipit mungil wajahmu
membutakan hasrat kecurigaanku padamu
betapa seorang wanita yang tiap harinya bersamaku
memeluk dan tidur disampingku, menghirup udara yang sama denganku
kita hitung tiap lembaran kertas yang kau tulisi namaku
ku usap tangan mungilmu yang bertuliskan namaku
hasil sayatan pertamamu saat tak kuat ingin memelukku
dan berakhir sudah dengan air mata yang menetes tidak untukku
catatan ini takkan berakhir begitu saja
saat kau koyakkan maka saat itulah dia tinggal selamanya
28 March 2009
Untitled
Kubiarkan hujan memelukku
dalam dingin yang menembus asaku
suaranyanya mengalahkan segala jeritan
rintiknya perlahan menutupi air mataku
dan kuhanya mampu membeku di antaranya
pada siapa kuteriakkan kemarahan ini?
padamu? padanya? atau pada langit?
rintik hari ini mengingatkanku cara tuk tersenyum
dan aku tersenyum mengingatnya
dalam dingin yang menembus asaku
suaranyanya mengalahkan segala jeritan
rintiknya perlahan menutupi air mataku
dan kuhanya mampu membeku di antaranya
pada siapa kuteriakkan kemarahan ini?
padamu? padanya? atau pada langit?
rintik hari ini mengingatkanku cara tuk tersenyum
dan aku tersenyum mengingatnya
23 February 2009
Chapter 9 - (untuk ibumu)
Ibu tua itu termenung diatas sajadahnya. Dia memikirkan anak perempuannya yang hingga saat ini tak lagi berjemaah bersamanya. Namun apakah sang anak mengerti?
Ibu tua itu termenung diatas sajadahnya. Dia memikirkan anak perempuannya yang tak lagi perawan. Apa yang harus dikatakannya nanti pada keluarga mempelai pria. Dia bingung dan hanya menadahkan tangan dengan kepala tertunduk.
Ibu tua itu berdiri, dihampirinya sang anak yang sedang tertidur pulas sehabis berpesta. Mengusap kening, dan sebuah ciuman hangat menjadi hadiah dari si ibu malam itu. Si anak hanya tersentak layu, namun kembali terlelap. Ibu itu berjalan gontai kearah dapur. Kuat digenggamnya tasbih hijau ditangan kirinya. Di ambilnya garpu di atas meja segiempat itu, seketika ditancapkannya tepat dileher. Seperti tak merasakan sakit berjalan menuju kamar anak perempuannya. Dicabutnya garpu tadi dari lehernya, digigitnya tasbih tadi kuat dan darah dibajunya. Dia menangis. Entah dia kebal atau apalah itu jelas terlihat bahwa si ibu seperti tak merasakan sakit. Kembali di usapnya kening si anak, dan berbaring di samping si anak hingga matahari kembali, sedangkan dia merasa nyaman tak kembali.
Ibu tua itu termenung diatas sajadahnya. Dia memikirkan anak perempuannya yang tak lagi perawan. Apa yang harus dikatakannya nanti pada keluarga mempelai pria. Dia bingung dan hanya menadahkan tangan dengan kepala tertunduk.
Ibu tua itu berdiri, dihampirinya sang anak yang sedang tertidur pulas sehabis berpesta. Mengusap kening, dan sebuah ciuman hangat menjadi hadiah dari si ibu malam itu. Si anak hanya tersentak layu, namun kembali terlelap. Ibu itu berjalan gontai kearah dapur. Kuat digenggamnya tasbih hijau ditangan kirinya. Di ambilnya garpu di atas meja segiempat itu, seketika ditancapkannya tepat dileher. Seperti tak merasakan sakit berjalan menuju kamar anak perempuannya. Dicabutnya garpu tadi dari lehernya, digigitnya tasbih tadi kuat dan darah dibajunya. Dia menangis. Entah dia kebal atau apalah itu jelas terlihat bahwa si ibu seperti tak merasakan sakit. Kembali di usapnya kening si anak, dan berbaring di samping si anak hingga matahari kembali, sedangkan dia merasa nyaman tak kembali.
Karena Aku Laki
Satu, aku mengenalmu
dua, aku jatuh cinta
tiga, kita bercinta
last but not least, kau berubah
itu memang bukan akhir
dua, aku jatuh cinta
tiga, kita bercinta
last but not least, kau berubah
itu memang bukan akhir
Subscribe to:
Posts (Atom)